Wartawan Tempo Babak Belur Saat Jalani Tugas Investigasi di Surabaya

Solidaritas wartawan mengecam kekerasan yang dialami teman seprofesi. (Istimewa)
Bagikan:

Surabaya – Kekerasan terhadap wartawan yang sedang menjalani tugasnya kembali terjadi. Kali ini tindak kekerasan dialami oleh Nurhadi, wartawan Tempo di Surabaya. Ia mengalami penganiayaan dan ancaman saat melakukan investigasi terkait dugaan kasus suap pajak yang menjerat pejabat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Angin Prayitno Aji.

Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu malam (27/3/2021). Saat itu Hadi ditugaskan oleh kantornya untuk mencari keberadaan tersangka di sebuah acara pernikahan anak Angin. Ia diminta untuk meminta konfirmasi Angin terkait kasus yang menjeratnya. Bukannya mendapatkan jawaban, Hadi malah ditangkap oleh Purwanto dan Firman, dua orang yang mengaku sebagai anak asuh besan dari Angin, Kombes Pol Achmad Yani, mantan Kepala Biro Perencanaan Polda Jawa Timur (Jatim). Belakangan keduanya juga mengaku berasal dari Polda Jatim.

Bacaan Lainnya

“Mereka mengaku anak asuhnya Achmad Yani,” kisah Hadi, Minggu (28/3/2021).

READ  Korban Gempa Sulbar: 56 Orang Meninggal Dunia

Oleh mereka, Hadi dikira hendak meliput acara pernikahan anak Angin dan Achmad Yani yang digelar di tengah pandemi Covid-19. Hadi mencoba menjelaskan. Namun ponselnya malah dirampas, dirusak hingga pecah, memori di ponselnya pun di-reset, kartu simnya dipatahkan dan dibuang.

“Saya jelaskan saya hanya mau konfirmasi soal kasus suap pajak, soal korupsi, bukan pernikahan,” ujar dia.

Selama itu pula Hadi mengaku mendapat beragam kekerasan seperti dijambak, ditampar, ditempeleng, dibogem, dan diinjak. Bahkan seseorang yang diduganya sebagai anggota TNI sempat ingin menyetrumnya. Ajudan Angin juga mengancam membunuhnya.

“Saya dipukul bertubi-tubi, tiap orang yang ada bertanya saya dari mana lalu memukul saya,” ucapnya.

Hadi tak ingat betul detail jumlah mereka. Yang pasti jumlahnya lebih dari 10. Mereka berpakaian hitam dan berbatik biru. Tak cukup dihajar bergilir. Hadi juga dibawa oleh Firman dan Purwanto ke sebuah kamar di Hotel Arcadia. Di sana ia disekap selama dua jam. Sebelum akhirnya diantar pulang oleh keduanya.

Sementara itu, menurut release yang dibuat oleh Asosiasi Jurnalistik Independent (AJI), Firman dan Purwanto sempat menyodorkan uang sebesar Rp600 ribu sebagai uang tutup mulut sekaligus pengganti kerusakan barang-barangnya. Hadi menolak uang tersebut namun keduanya memaksa. Bahkan ada yang sempat mengambil foto Hadi yang sedang memegang uang tersebut. Namun Hadi menaruh uang tersebut di dalam mobil yang menyekapnya.

Kini kasus kekerasan ini telah dilaporkannya ke Mapolda Jatim, Surabaya. Laporan ini sendiri telah diterima SPKT dengan Laporan Polisi Nomor: LP-B/176/III/RES.1.6/2021/UM/SPKT Polda Jatim. Ia didampingi Aliansi Anti Kekerasan Terhadap Jurnalis, yang terdiri dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, KontraS Surabaya, LBH Lentera, LBH Pers, dan LBH Surabaya. Polda Jatim memastikan bakal mengusut kasus dugaan penganiayaan yang menimpa Nurhadi.

“Benar. Pada hari ini teman-teman dari AJI melaporkan ke SPKT (Sentra Pelatanan Kepolisian Terpadu) Polda Jatim terkait adanya kejadian dugaan penganiayaan terhadap salah satu awak media,” kata Kabid Jawa Timur Kombes Pol Gatot Repli Handoko, Minggu (28/3/2021).

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *