Ketua KAMI Ahmad Yani Terpilih Jadi Ketum Partai Masyumi ‘Reborn’

Mantan politisi PPP, Ahmad Yani jadi ketum Partai Masyumi (Foto; Istimewa)
Mantan politisi PPP, Ahmad Yani jadi ketum Partai Masyumi (Foto; Istimewa)
Bagikan:

Jakarta – Mantan kader PPP, Ahmad Yani terpilih menjadi ketua umum Partai Masyumi ‘Reborn’. Politisi yang juga Ketua Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) itu terpilih melalui rapat Majelis Syura.

Ketua Majelis Syuro Partai Masyumi Abdullah Hehamahua mengatakan Ahmad Yani terpilih sebagai ketum Partai Masyumi berdasarkan pertimbangan dari berbagai aspek.

“Ya, dipilih dalam rapat pleno Majelis Syura,” kata Abdulla Hehemahua, Selasa (30/3/2021).

Menurutnya, sebelumnya ada 2 calon ketua umum yang diajukan sebagai kandidat ketum Masyumi beru tersebut.

“Ada dua calon tapi setelah ditinjau dari pelbagai aspek maka disepakati saudara Ahmad Yani sebagai Ketua Umum,” tutur dia.

Abdullah mengungkapkan nantinya keterpilihan Ahmad Yani sebagai Ketua Umum Partai Masyumi akan diumumkan secara resmi pada April 2021.

“Betul. Namun, resminya baru diumumkan ke publik tanggal 3 April 2021,” kata Abdullah.

READ  Demi Bantuan, Warga Mamuju Dipaksa Cari KTP di Reruntuhan Bangunan

Sebelum bergabung ke Partai Masyumi, Ahmad Yani sempat menjadi kader PPP dan PBB. Melalui PPP, Ahmad Yani bahkan terpilih menjadi anggota DPR periode 2009-2014.

Pada 2020, Ahmad Yani bergabung dengan KAMI. Dia pun didaulat menjadi Ketua Komite Eksekutif KAMI.

Partai Masyumi sebelumnya merupakan salah satu partai yang sudah bubar di era Presiden Sukarno. Namun, tokoh-tokoh KAMI kemudian mendeklarasikan partai itu kembali.

Masyumi Reborn ini dideklarasikan pada Sabtu, 7 November 2020, bertepatan dengan hari ulang tahun Partai Masyumi ke-75.

Sebelumnya, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, menyoroti kembali berdirinya Partai Masyumi dengan tagline Masyumi Reborn. Ujang menyebut, saat ini banyak partai Islam tapi tidak pernah menang pemilihan umum (pemilu).

Partai politik Islam di masa Orde Baru dan pascareformasi sulit menang. Karena kekuasaan yang tak berpihak pada partai politik Islam dan karena terfragmentasinya partai-partai politik Islam itu sendiri. Kita menyaksikan banyak partai Islam.

“Tapi tak pernah menang, tak pernah mendapat dukungan rakyat yang besar,” kata Ujang.

Bagi Ujang, salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah partai Islam tidak bersatu. Masing-masing elite partai berjalan sendiri-sendiri.

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *