Fenomena Rasisme di Media Sosial dan Ancaman Perpecahan Bangsa

Bagikan:

Dibandingkan media online, media sosial seperti twitter dan facebook, lebih berpotensi untuk menjadi sarang prilaku rasis. Karena media sosial adalah ruang yang bebas bagi siapa saja menguggah materi yang diinginkan. Batasnya adalah sensor dari platform dan hukum yang berlaku di suatu negara.

Berdasarkan data dilansir Russian Television, yang dikutip media Republika, sebuah lembaga pemerhati jejaring sosial yang berbasis di London Inggris mengatakan, teknologi informasi mutakhir saat ini semakin membuat warga dunia terjerembab ke dalam sikap rasis.

Sebuah lembaga think-thank bernama Demos, melansir sebuah temuan yang fantastis. Lembaga ini melaporkan, setiap harinya, kira-kira terdapat 10 ribu lebih ungkapan rasisme tersebar lewat jejaring sosial.

Laporan lembaga tersebut bahwa angka tersebut hanya baru mengidentifikasi ungkapan yang berbahasa Inggris. Mereka memiliki hitungan, sekira 160 juta tweet yang terkirim setiap hari dalam bahasa Inggris lewat 14 ribu pengguna akun di Twitter.

Setelah dianalisis, dalam kurun waktu sembilan hari, ditemukan sekitar 126.975 diantaranya adalah kicauan yang bernada rasis.

Lembaga riset ini menemukan sejumlah ungkapan dengan istilah rasis, dalam bahasa Inggris, bernada kasar dan berkonotasi negatif. Terdapat sekitar 10 kata umum makian dalam bahasa Inggris yang kerap digunakan untuk memaki dengan cara rasis.

Beberapa contohnya, seperti Boy White (laki-laki kulit putih), Paki (untuk orang-orang keturunan Timur Tengah), Whitey (orang-orang berkulit kuning dari Asia), Nigga (berarti kulit hitam), Squinty (dikhususkan untuk orang China, Korea dan Jepang), dan sebagainya.

Dari penelitiannya itu disimpulkan, kira-kira lebih dari 75 persen diantaranya dilontarkan oleh pengguna akun dari kalangan kulit putih. Sementara antara 50 hingga 70 persen ungkapan rasis, sebagai bentuk bentuk solidaritas akibat nada ‘penghinaan’ tersebut.

READ  Menguji Keimanan Dengan Isra' Mi'raj

Seperti diketahui, rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu.

Kepercayaan seperti ini masih terus mayakini bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.

Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Politisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara, atau menjatuhkan lawan politik.

Rasisme berkaitan dengan konsep ras di dalam masyarakat. Pembentukan rasisme dapat terjadi jika perbedaan fisik dianggap sebagai suatu hal yang penting di dalam masyarakat.

Rasisme juga dapat timbul karena adanya perbedaan dari segi psikologi, ideologi dan ekonomi. Kondisi yang dapat menimbulkan rasisme di dalam masyarakat yaitu adanya beberapa kelompok ras dengan kebudayaan yang berbeda serta adanya pelembagaan ketidasetaraan pada masing-masing ras yang saling berhubungan satu sama lain.

Diskriminasi adalah sikap membedakan secara sengaja terhadap golongan-golongan yang berhubungan dengan kepentingan tertentu. Pembedaan tersebut biasanya didasarkan pada agama, etnis, suku, dan ras.

Diskriminasi cenderung dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas. Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik suku, antargolongan, kelamin, ras, agama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi.

Jagat media sosial di Indonesia, juga kurang lebih sama tentunya. Mengingat Indonesia dihuni oleh penduduk multi ras. Perbedaan rasial di Indonesia, bahkan seringkali bertumpang tindih dengan perbedaan lain, seperti agama, suku, dan status ekonomi. Intinya, Indonesia juga sangat rawan dengan problem rasial, dan merupakan salah satu potensi yang bisa memecah belah bangsa.

Sebenarnya pemerintah, sejak lama telah menghadirkan berbagai perangkat hukum untuk menjerat pelaku diskriminasi rasial ini. Berbagai perundang-undangan telah disusun dan ditetapkan.

READ  Kematian Argumentasi dan Penggiringan Opini di Media Sosial

Diantaranya, adalah diskriminasi rasial secara global yang diatur dalam International Convention on The Elimi­nation of all Forms of Racial Discrimination 1965.

Konvensi tersebut telah diratifikasi Indonesia melalui UU Nomor 29 Tahun 1999 tentang Pengesahan Konvensi Internasio­nal tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial.

Selanjutnya untuk menjamin tidak terjadi konflik dan diskriminasi, Indonesia membentuk UU No­mor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Dalam Pasal 16 dikatakan bahwa, setiap orang yang dengan sengaja menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras dan etnis, maka oarang tersebut dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak 500 juta rupiah.

Khusus untuk mengatasi kegiatan di media berbasis internet, dalam UU ITE juga sudah mengatur soal prilaku rasis. Hukuman tentang pelanggaran diskriminasi rasial ditetapkan dalam UU ITE, Pasal 28 Ayat 2.

Disini dikatakan “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasar­kan atas suku, agama, ras, dan antargolongan.”

Mengenai sanksi, pasal 45 Ayat 2 menegaskan bahwa pelaku kejahatan ras dihukum penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak satu juta rupiah.

Dengan hukuman ini, seharusnya masyarakat dan pengguna media sosial harus berhati-hati. Setiap prilaku diskriminasi rasial berpotensi dihukum dengan peraturan tersebut. (ilp/ijs)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *